Minggu, 07 Maret 2010

Toko Roti Dona Dony

Berawal dari Hobi, Pelopor Travelling Service

Menjadikan hobi sebagai lahan bisnis bukan hal mustahil. Malah, selain menyalurkan kesenangan, juga dapat meraup profit yang menjanjikan.

---------------------------------------------------

Berawal dari hobi membuat aneka kue dan roti, Ang Hoa Suan (54 tahun) mencoba mengadu peruntungan dengan berjualan roti. Tahun 1992, ia mulai merintis usahanya dengan membuka kedai roti di rumahnya di bilangan Jln. Tekukur. Meski serba sederhana dengan jumlah produksi dalam skala kecil, namun perlahan roti buatan Ang Hoa Suan mulai dikenal warga Makassar pada saat itu.

Melalui mulut ke mulut, kedai roti Suan yang diberi nama Dona Dony pun mulai ramai dikunjungi para pembeli. Melihat prospek cerah tersebut, ia kemudian berpikir untuk menjajakan roti buatannya di tempat yang lebih lapang dan strategis. Sekitar tahun 1997, ia memilih lokasi berjualan di bilangan ruas Jln. Cenderawasih. Aneka roti yang ditawarkan, antara lain roti tawar, roti balok, roti isi cokelat, roti isi keju dan roti isi sosis.

“Dari awal, ibu memang hobi membuat kue-kue dan roti. Karena keadaan ekonomi keluarga yang mendesak ketika itu, ibu kemudian memilih membuka kedai roti untuk membantu biaya hidup sehari-hari,” kisah Deril Tunggal, putra Ang Hoa Suan kepada Pecinan Terkini, Selasa 22 Februari lalu.

Bahkan, di tahun 1996, Dona Dony menjadi pelopor penjualan roti dengan sistem traveling service, yakni penggunaan mobil keliling untuk menjajakan roti. Strategi ini pun membuat nama Dona Dony semakin berkibar dan dikenal masyarakat luas.

Delapan belas tahun berjalan, Toko Roti Dona Dony tetap mampu eksis meski beberapa perusahaan roti bermunculan di ranah Makassar. Dengan proses produksi alat-alat yang lebih modern, Roti Dona Dony mampu memproduksi aneka roti dalam jumlah yang banyak setiap harinya. Selain di Jln. Cenderawasih, Dona Dony juga membuka cabang di bilangan Jln. Landak.

Pelanggannya pun tak sebatas warga Makassar lagi, namun juga dari beberapa daerah di luar Makassar. “Persaingan sekarang memang ketat dibanding beberapa tahun lalu. Namun, dengan terus berinovasi dan tetap menjaga kualitas, kami optimis tetap mampu bertahan,” ujar Deril, yang kini dipercayakan mengelola Toko Roti Dona Dony.

Di bawah kendalinya, Deril mencoba lebih mempromosikan lagi Toko Roti Dona Dony ke masyarakat luas. Ke depan, kata pria kelahiran Makassar, 12 Januari 1989 ini, dia berencana untuk mengembangkan toko rotinya ke beberapa daerah. “Terus terang, nama Dona Dony yang sudah familiar di telinga masyarakat menjadi keuntungan tersendiri dalam hal promosi. Namun ke depan, saya juga berencana untuk mengembangkan dengan membuka cabang-cabang di daerah,” ujarnya.

Terinspirasi Piala Dunia

Berkaitan dengan nama Dona Dony, Deryl mengisahkan bahwa pemilihan nama itu hanya kebetulan. Nama itu diambil dari nama belakang salah seorang pemain Italia pada Piala Dunia 1992, Roberto Donadoni. “Waktu ibu baru membuka kedai kue, bertepatan dengan pagelaran Piala Dunia. Kemudian tercetus ide dari Bapak memilih nama Donadoni saat sedang menonton, dan tetap dipakai hingga sekarang,” tandasnya. [Sapriadi Pallawalino]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar