Kamis, 18 Februari 2010

Semarak Imlek, Trans Studio Suguhkan Drama Musikal Legenda Cinta Lie dan Lian

Menyemarakkan Imlek, pengelola Trans Studio menyuguhkan aneka atraksi dan pertunjukan khas Tiongkok sepanjang Februari ini, Berbagai pertunjukan itu antara lain festival Lampion, atraksi barongsai hingga drama musikal Legenda Cinta Lie dan Lian yang disuguhkan kepada pengunjung setiap harinya. Selain itu, tiap Sabtu dan Minggu, pengelola Trans Studio juga menghadirkan artis-artis ibukota untuk menghibur akhir pekan pengunjung. Drama musikal Legenda Cinta Lie dan Lian sendiri berkisah tentang seorang putri raja bernama Lian yang nekat meninggalkan istana untuk belajar ilmu kungfu. Secara tak sengaja, ia bertemu dengan Lie, seorang pendekar kungfu dari perguruan Macan Terbang, yang kemudian menjadi gurunya. Namun, sang raja Fei Lung sangat murka ketika mengetahui putrinya berlatih kungfu di perguruan Macan Terbang. Beberapa pendekar kungfu yang telah dipilih sang raja untuk mendampingi putrinya, ternyata tidak mampu memikat hati dan mengalahkan ilmu kungfu sang putri. Sang raja pun pasrah dan menyerahkan sepenuhnya pilihan kepada putrinya. Hingga kemudian, Lie yang menyamar berhasil menandingi ilmu kungfu sang putri dan menaklukkan hatinya. “Pertunjukan yang bagus. Saya sendiri tidak menyangka mereka bisa tampil sebagus itu. Ini merupakan drama musikal terbaik Imlek yang pernah digelar di Makassar,” puji Eka Firman, Direktur Trans Kalla usai pertunjukan perdana drama musikal Legenda Cinta Lie dan Lian, kepada wartawan awal Februari lalu. Antusiasme yang sama juga diperlihatkan para pengunjung yang rela berdesak-desakan untuk menyaksikan drama musikal yang dipentaskan di panggung khusus tersebut. Menariknya, pemerannya pun oleh anak-anak Makassar dengan koreografer yang didatangkan dari Jakarta. “Memang, untuk penampilan drama musikal, mereka mempersiapkan diri dengan berlatih selama dua minggu,” imbuh Eka, didampingi Media Relation Officer Trans Kalla, Emma Wardhany. [Sapriadi Pallawalino]

Rabu, 17 Februari 2010

Hotel Bintang Tiga, Menjaring Pasar di Segmen MICE

-->
Maraknya penyelenggaran meeting, incentive, convention dan exhibition (MICE) di Makassar, memberi kontribusi besar bagi pelaku bisnis hotel di kota ini, termasuk hotel kategori bintang tiga. Mereka menjadi pilihan alternatif untuk berbagai kegiatan MICE.
-------------------------------------------
Asisten S & M Manager Hotel Dinasti, Sunarti Anwar, menjelaskan bahwa tingkat hunian di hotel yang terletak di Jalan Lombok tersebut didominasi oleh tamu-tamu yang terlibat pada penyelenggaraan MICE. “Peningkatan kegiatan MICE di Makassar berimbas positif pada tingkat hunian hotel. Umumnya, mereka berasal dari segmen government, seperti Bantaeng dan Takalar,” ungkap Sunarti, Selasa 19 Januari lalu.
Di samping segmen government, kata Sunarti, hotel yang memiliki 57 kamar dengan sentuhan tradisional dan dekorasi oriental khas Tiongkok itu juga menyediakan paket lain, di antaranya paket pernikahan oriental, paket pernikahan tradisional, paket cikong-cikong (pre-wedding), serta paket ulang tahun. “Untuk menunjang acara-acara tersebut, kami menyediakan lima ruang meeting dengan nama khas Tiongkok,” imbuh Sunarti.
Ke lima ruangan tersebut masing-masing Ming Room, Cing Room, Yen Room, Han Room dan Tan Palace. Penamaan ruangan itu diambil dari nama-nama dinasti yang ada di Tiongkok sebagai bentuk penghormatan owner hotel kepada tanah leluhurnya. Menurut Sunarti, pemilihan konsep oriental khas Tiongkok tersebut, baik dari segi ornamen gedung maupun desain interior kamar dan ruangan, juga didasari pada lokasi hotel yang terletak di kawasan Pecinan.
Fasilitas lain yang ditawarkan hotel yang berdiri sejak Januari 1998 itu, antara lain kunci magnetic untuk akses ke semua kamar, restoran dan coffee shop, massage and spa services, daily laundry services, gratis akses internet di seluruh area hotel serta saluran TV satelit dan mini bar.
“Selain itu, melalui kerjasama dengan pengelola Trans Studio, maka tamu-tamu juga akan mendapatkan kemudahan saat berkunjung ke sana. Selain penjemputan dan sarana transportasi yang disediakan pihak Trans Studio, juga disajikan hiburan berupa special dancer,” terang Sunarti
Sementara itu, General Manager Hotel Mercure, Willy Suderes, tak memungkiri penyelengaraan MICE memberi kontribusi besar terhadap tingkat okupansi bagi hotel yang berada di bawah naungan Accor Management itu. “Sekitar 75 persen tingkat hunian hotel berasal dari segmen MICE. Selain dari kalangan government, juga berasal dari perusahaan-perusahaan, baik pengusaha lokal maupun dari luar Makassar,” jelas Willy, Rabu 20 Januari lalu.
Hotel yang terletak di Jln Daeng Tompo tersebut menyediakan 72 kamar dengan sejumlah fasilitas dan enam meeting room berkapasitas 1.000 orang out standing. “Untuk kenyamanan tamu, selain fasilitas standar, di tiap kamar juga ditambahkan fasilitas akses gratis internet wi-fi, mini bar dan bath up,” imbuh Willy.
Dalam hal pelayanan terhadap tamu, kata Willy, hotel yang kental sentuhan ornamen Victorian tersebut mengusung konsep yang menarik. “Setiap bulan, kami menghadirkan special promo bagi pengunjung dengan tema berbeda. Untuk bulan Januari ini, kami usung konsep Mexico dengan menyajikan berbagai menu khas serta kostum ala Mexico. Intinya, adalah bagaimana memberi personal touch kepada tamu,” tutur pria berdarah campuran Tionghoa – Manado ini.
Ke depan, imbuh Willy, pengelola akan melakukan penambahan fasilitas hotel secara bertahap. Mulai dari penambahan kamar hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya. “Saat ini dalam tahap pembangunan. Nantinya, akan ada penambahan kamar sebanyak 78 kamar sehingga total akan ada 150 kamar. Selain itu, fasilitas pendukung seperti sauna, spa, hair salon, fitness centre dan entertaintment akan semakin memanjakan para tamu,” jelas Willy. [Sapriadi Pallawalino]
Jimmy B. Oentoro Motivator, Pendiri World Harvest Kagum dengan Perkembangan Makassar
Berkunjung ke Makassar, bukan pengalaman baru bagi Jimmy B. Oentoro. Profesinya sebagai seorang businessman dan motivator, membuat alumni Fresto State University bidang bisnis ini kerap diundang sebagai pembicara pada seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan di berbagai tempat, termasuk di Makassar. Apalagi, pria yang telah tampil berbicara di hadapan pemimpin-pemimpin di Eropa, Amerika, Australia, Afrika dan Asia serta berbagai kota di Indonesia tercatat sebagai Ketua Dewan Pengawas Yayasan Pelita Harapan yang menaungi sekolah nasional plus di Makassar. “Makassar kota yang menarik. Saya kagum dengan pesatnya pembangunan infrastruktur di Makassar belakangan ini, seperti pembangunan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan jalan tol yang memperlancar arus mobile masyarakat. Kehadiran Trans Studio juga menjadi nilai plus bagi perkembangan kota ini,” ujar Jimmy kepada Pecinan Terkini, Sabtu 28 November lalu saat ditemui di Ballroom Clarion Hotel and Convention Makassar, di sela-sela seminar Reaching Your Destiny. Sehingga, kata dia, selain Manado, Makassar bisa menjadi salah satu leading factor sekaligus pintu gerbang di Kawasan Timur Indonesia . “Sayangnya, pembangunan infrastruktur tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan people skill. Misalnya, penyambutan oleh petugas di airport yang terkesan dingin, tanpa senyum sapa. Padahal, momen di lima menit pertama itulah yang melahirkan kesan,” imbuhnya. Di samping itu, kata Jimmy, permasalahan lainnya terletak pada tata kota dan lalu lintas yang masih perlu diperbaiki. “Intinya, Makassar perlu membuat city brand dan city leadership untuk menjadi kota dunia,” jelas Jimmy yang mengaku kagum dengan kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama di Makassar. Aktif di Bidang Pendidikan Selain sebagai businessman dan motivator, Jimmy B. Oentoro juga berkecimpung di bidang pendidikan. Di samping sebagai Ketua Dewan Pengawas Yayasan Pelita Harapan, suami Jenny ini menjadi pimpinan Harvest Christian School, Sekolah Tinggi Ilmu Management dan Informatika Komputer (STIMIK) Kuwera, serta STT Internasional Harvest yang menyediakan pendidikan dari S1 hingga S3 di Jakarta. Ayah satu anak ini juga aktif di World Harvest, sebuah LSM yang didirikannya untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak kurang mampu, khususnya pada daerah-daerah rawan bencana, seperti di Aceh, Nias, Padang dan Lampung. Bukunya, "The 7-40 Journey" yang berisi motivasi bagi setiap orang yang ingin memaksimumkan potensi dalam diri mereka, menjadi salah satu buku best seller. Bersama istrinya, dia juga telah menulis buku-buku tentang keluarga, dan mempunyai komitmen untuk membangun setiap perkawinan menjadi perkawinan Bintang Lima. "Building a Five Star Marriage". Meski dihadapkan pada seabrek kegiatan, namun tidak menjadi kendala bagi Jimmy dalam menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Vision Christian University, Amerika dan STT Baptis di Semarang. Jimmy Oentoro tinggal di Jakarta bersama istrinya, Jenny dan putrinya Stacy. [Sapriadi Pallawalino]
---------------- Data Pribadi Nama : Jimmy B. Oentoro Pekerjaan : Bussinessman, motivator dan educator Istri : Jenny Anak : Stacy Alamat : Jakarta Pendidikan : Fresno State University bidang bisnis (menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Vision Christian University, Amerika dan STT Baptis di Semarang) Organisasi : - Pendiri World Harvest - Ketua Dewan Pengawas Yayasan Pelita Harapan

Ricardo dan Rheinald; Dua Bersaudara Penggemar Ikan Koi

Keindahan dan keunikan ikan koi tidak hanya memikat penghobi dari kalangan dewasa. Anak-anak kecil pun dibuat jatuh hati dengan ikan asal Negeri Sakura tersebut.

---------------------------------------

Jam dinding di kantor menunjukkan pukul 17.00. Tak seperti biasanya, usai check lock, penulis langsung bergegas pulang ke rumah. Sore itu, Jum’at, 22 Januari, penulis telah membuat janji wawancara dengan salah satu pengusaha ikan koi di ranah Kota Daeng ini.

Namun, sore itu, lagi-lagi macet di ruas Jln. Sultan Alauddin, menghambat perjalanan, tepatnya di depan Pasar Pabaeng-baeng. Sekitar 15 menit kemudian, penulis akhirnya sampai di salah satu rumah, yang dikelilingi tembok pagar tinggi. Di pintu gerbang, sebuah lukisan beberapa ikan koi berlatar biru begitu mencolok. Di bagian tengah pintu gerbang, sebuah bel yang menjadi isyarat bagi tamu yang akan berkunjung.

Sejenak, beberapa detik setelah memencet tombol bel, pintu gerbang dibuka. Dari dalam, seorang bocah menghampiri penulis. “Cari siapa, Kak? Bapakku tidak ada karena lagi keluar. Kalau mau beli ikan, masuk mi lihat-lihat dulu,” sapa seorang bocah kepada penulis sambil menenteng bola.

Penulis bergegas masuk. Mengamati setiap sudut tempat penangkaran ikan koi yang terletak di halaman rumah sang pemilik. Terdapat sepuluh kolam, dengan berbagai ukuran dan jenis ikan koi. “Ini ikan Tancho saya yang pernah menang kontes di Jakarta,” sambung bocah yang bernama Rheinald (5 tahun), sambil menunjuk salah satu ikan koi di kolam.

Dia kemudian mengajak penulis melihat ikan-ikan koi tersebut di kolam lainnya. Dengan lincah dan polos, ia bercerita tentang kesukaannya terhadap ikan koi. “Saya suka ikan koi karena bintiknya cantik-cantik dan lucu. Tapi kalau Bapak ikut kontes di mal-mal, saya tidak dikasih ikut karena selalu minta dibelikan sesuatu,” ujarnya dengan gaya khas kanak-kanak.

Sang kakak, Ricardo (12 tahun), kemudian menghampiri penulis. “Iya kak, saya dan adik memang suka ikan koi dan sering memberi makan ikan bersama-sama. Selain itu, Bapak juga sering mengawinkan ikan koi di sini,” jelas siswa kelas I SMP Katolik Rajawali itu. Keduanya adalah putra David, salah seorang pengusaha ikan koi di Makassar.

Ikan koi yang dikawinkan, lanjut Ricardo, dipisahkan ke dalam kolam tertentu. Dalam proses tersebut, tiga ekor ikan koi jantan ditempatkan satu kolam dengan seekor ikan koi betina. Sebelum dikawinkan, ikan koi itu disuntik terlebih dahulu. “Nggak tahu juga kak. Mungkin biar ikannya sehat,” ujar Ricardo polos, saat ditanya perihal penyuntikan terhadap ikan yang akan dikawinkan.

Menurut Ricardo, sepulang sekolah, dia selalu bermain-main di sekitar kolam tempat penangkaran ikan koi bersama adiknya. Sebelum dan setelah pulang sekolah, dia selalu memberi makan ikan-ikan koi tersebut. “Tapi kalau ada kolam ikan yang lagi kosong, biasa kami jadikan kolam renang,” ujar Ricardo, yang kelak bercita-cita menjadi pengusaha ikan koi., mengikuti jejak ayahnya. [Sapriadi Pallawalino]

Minggu, 07 Februari 2010

Mendulang Rupiah dari Pekatnya Kopi

Sepanjang 2009, bisnis warung kopi (warkop) berjaya. Tak hanya pemain lama, pemain baru pun turut meramaikan bisnis yang satu ini. ------------------
Warkop telah menjadi pilihan favorit bagi warga Metropolis untuk bersantai atau sekadar kongkow dengan teman-teman. Meski identik dengan sajian kopi, warkop tak sebatas tempat ngopi. Umumnya, pengelola warkop juga menyediakan aneka makanan dan minuman lainnya untuk menemani pengunjung. Seiring perkembangan teknologi, warkop semakin fenomenal dengan kehadiran fasilitas hotspot. Berbekal laptop, pengunjung bisa merasakan “menu” lain yang tak kalah asyik, berinternet secara gratis. Hampir di tiap sudut kota, puluhan warkop bertebaran dengan menawarkan konsep dan pengunjung dari segmen berbeda. Warkop Phoenam Warkop Phoenam, merupakan salah satu warkop tertua di Makassar yang berdiri sejak tahun 1946. Warkop yang didirikan almarhum Liang Thay Hiong ini menyajikan racikan kopi khas Hainan, salah satu tempat di Tiongkok yang terkenal sebagai tempat peracik kopi ulung. Awal berdirinya, warkop ini terletak di bilangan Jln. Nusantara, kemudian dipindahkan ke Jln. Jampea. Saat itu, warkop tersebut ramai dikunjungi oleh pegawai maupun pendatang di sekitar Pelabuhan Makassar. Sepeninggal Liang, pengelolaan Warkop Phoenam dilanjutkan putra keduanya, Albert Liongadi, yang sukses melakukan ekspansi bisnis. Selain membuka cabang di Jln. Boulevard dan Mall Panakukkang, Warkop Phoenam juga membuka cabang di Jakarta. Saat ini, tak sekadar tempat kongkow dan bersantai, cabang Warkop Phoenam di Jln. Boulevard dan Mall Panakukkang kerap menjadi lokasi pertemuan berbagai kalangan, mulai dari diskusi politik, seminar hingga konferensi pers. Sebagian besar pengunjungnya memang dari kalangan professional, pengusaha, LSM, wartawan hingga para akademisi. Bahkan, salah satu stasiun radio di Makassar rutin menggelar diskusi live di warkop ini. Warkop Tenda Pengayoman Berbeda dengan Warkop Phoenam yang sudah punya brand kuat, Warkop Tenda Pengayoman terbilang pendatang baru dalam bisnis warkop. Namun demikian, perkembangan warkop yang dibuka sejak 1 Agustus 2009 lalu terbilang pesat. Mengusung konsep lokasi nonton bareng (nobar), tiap akhir pekan warkop ini ramai dikunjungi komunitas pecinta bola di Makassar. “Sejak dibuka, Warkop Tenda memang terlanjur dikenal sebagai pusat nonton bareng pertandingan sepakbola. Namun ke depan, kami juga akan menyajikan konsep acara nobar F1 dan Moto GP,” jelas Nurhadi Samad, owner Warkop Tenda kepada Pecinan Terkini, Kamis 17 Desember lalu. Menurut Nurhadi, pengunjung warkop yang beralamat di Jln. Pengayoman ini umumnya dari kalangan pemuda dan mahasiswa. Mereka biasanya menghabiskan waktu dengan mengakses internet melalui fasilitas hotspot. Selain itu, beberapa organisasi-organisasi profesi pun kerap menjadikan tempat yang awalnya mengusung konsep tenda-tenda ini sebagai lokasi pertemuan. “Menu yang disajikan beragam karena kami menjalin kerjasama dengan beberapa teman, seperti menu mie kering khas arang, bubur ayam Pantai Losari, nasi kuning, jus mangga, racikan kopi Daeng Sija serta makanan prasamanan yang khusus disajikan pada jam istirahat kantor. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp 6 ribu hingga Rp 15 ribu,” terang Nurhadi, yang mengaku menginvestasikan modal awal senilai Rp 40 juta dengan omzet per bulan mencapai Rp 150 juta. Ke depan, Nurhadi berencana untuk mengembangkan Warkop Tenda sebagai café dan pusat bisnis. Renovasi di beberapa bagian dilakukan, termasuk penambahan ruang pertemuan dan warnet. “Kami berencana untuk memantapkan status sebagai pusat nobar dan bisnis untuk semua kalangan. Untuk acara nobar, sanggup memuat kapasitas berdiri 400-an orang,” tandas Nurhadi. Warkop Bunda Sama halnya dengan Warkop Tenda Pengayoman, Warkop Bunda juga merupakan salah satu pemain baru dalam bisnis warkop di Kota Daeng. Terletak di kawasan Pecinan, Jln. Sulawesi, warkop ini mengusung konsep dan tampilan berbeda. “Kita lebih ke konsep klasik, karena kita berusaha menyasar segmen dari kalangan ance-ance. Dengan tampilan suasana jaman dulu, membuat mereka bisa merasakan nuansa masa lalu,” ungkap Jo Yan Ting, pemilik Warkop Bunda kepada Pecinan Terkini, Rabu 16 Desember lalu. Nuansa masa lalu tersebut dipertegas dengan peralatan-peralatan yang digunakan dalam meracik menu yang merupakan peralatan tempo dulu. Beberapa foto-foto serta aksesoris jadul, seperti lampu, kipas angin dan jam dinding pun melengkapi suasana interior warkop yang terletak di samping Klenteng Ibu Agung Bahari tersebut. Tak hanya kopi, aneka menu juga disajikan di warkop yang berdiri sejak Mei 2009 lalu itu, antara lain roti panggang telur, keju, coklat dan corneed beef, roti kukus Bunda, kentang goreng barbeque, nasi kuning, pisang goreng dan aneka minuman seperti teh susu, teh rasa buah, es campur Bunda, hot/ice cappucino dan teh Lo Han Kuo. Harganya mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu. “Teh Lo Han Kuo ini merupakan teh khas dari Tiongkok dan memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan. Selain mengobati panas dalam, juga berkhasiat mengembalikan stamina dan menyegarkan tubuh. Minuman ini juga cocok dicampur dengan telur setengah matang,” ujar Jo, yang akrab disapa Bunda. Dikatakan, bahwa warkop yang dikelolanya itu umumnya ramai pada pagi hari, dan menjelang siang hari. “Kita bukanya mulai dari jam enam pagi hingga enam sore. Umumnya pengunjung adalah para karyawan dan pegawai yang ada di sekitar sini. Jadi, tidak hanya dari kalangan warga Tionghoa saja,” pungkas Jo. [Sapriadi Pallawalino]

Seminar “Reaching Your Destiny”: Menerobos Keterbatasan dalam Menggapai Kesuksesan

Keterbatasan bukan menjadi penghalang menggapai kesuksesan. Malah, banyak figur sukses yang meniti karir dan usahanya dari bawah. Memulai dari nol, mereka harus jatuh bangun melewati berbagai hambatan untuk berjuang meraih mimpi. Mereka menerobos keterbatasan yang ada pada diri mereka dan menjadikan kekuatan dalam menggapai kesuksesan.

Direktur Utama Fajar Grup, H. M. Alwi Hamu, mengaku pernah berdagang kue semasa SMP untuk membantu orangtua membiayai sekolahnya. “Mencapai kesuksesan memang tidak mudah. Agar bisa sukses, kita harus memiliki semangat yang tinggi untuk meraih apa yang diinginkan. Mendahulukan harapan dan cita-cita daripada perasaan, rasa malu, dan bangga akan diri sendiri,” ujar Alwi saat menjadi pembicara pada seminar “Reaching Your Destiny”, Sabtu 28 November lalu di Clarion Hotel and Convention, Makassar.

Alwi juga mengisahkan perjalanan hidupnya dalam meniti karir hingga sukses mengembangkan Fajar sebagai harian terkemuka di Indonesia Timur. “Awal merintis Fajar, kami harus jatuh bangun untuk biaya percetakan dan kelangsungan penerbitan. Bahkan juga sempat dituding sebagai pencuri. Namun, hambatan itu malah memotivasi untuk terus berkembang,” kata Alwi yang sejak SD sudah bercita-cita menjadi penulis.

Pengalaman serupa dialami Anggiat Sinaga dalam meniti karir. General Manager Clarion Hotel and Convention ini sempat merasakan hidup sebagai petugas pencatat meteran listrik, penjual sayur, petugas pengisian pom bensin hingga tukang kebun. “Namun, sikap pantang menyerah terus memacu saya untuk tidak berputus asa,” kisah Anggiat.

Sementara itu, General Manager CV. Makassar Indomedia, Adhi Santoso, juga pernah merasakan pahitnya kehidupan dalam perjalanan hidupnya. Masa sulit dalam kehidupan keluarga mewarnai masa kecilnya. “Kegetiran hidup di masa kecil tersebut yang menjadi motivasi saya untuk maju dan mengembangkan usaha sendiri secara mandiri,” kata Adhi yang bergelut di bidang penerbitan media dan percetakan.

Di bawah naungan CV. Makassar Indomedia, ia sukses menerbitkan beberapa media, di antaranya Makassar Terkini, Pecinan Terkini, Iklan Terkini dengan percetakan sendiri, Percetakan Bintang.

Selain ketiga pembicara tersebut, seminar yang diselenggarkan Radiant English ini juga menghadirkan pembicara lain, yakni Tung Desem Waringin, Julianto Eka Putra, H. Ilham Arief Sirajuddin, Jonathan L. Parapak, Jimmy B. Oentoro, Lanny Rusdi, Ariella Sinjaya serta Mawardi Jafar, dan diikuti seratusan peserta.

"Para pembicara ini dihadirkan bukan untuk menunjukkan apa yang mereka raih, tetapi agar mereka bisa berbagi bagaimana meraih kesuksesan dengan menaklukkan keterbatasan dan segala tantangan yang ada," sebut Ariella Sinjaya, pendiri dan Direktur Radiant English. [Sapriadi Pallawalino]

32 Warga Tionghoa Resmi Berstatus WNI

Hui Giok Kem, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sesekali, senyum sumringah mengembang di wajah nenek berusia 77 tahun itu. Di usia senja, ia akhirnya meraih impiannya menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), sesuatu yang telah didambanya sejak lama. Saat namanya dipanggil, dengan langkah tergopoh-gopoh, warga Parepare itu maju menerima SK penegasan kewarganegaraan RI yang diserahkan langsung Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Sulsel, Drs. Syamsul Bachri, S.H, Selasa 8 Desember lalu di aula Kanwil Depkumham Sulsel.

Tak hanya Hui, 31 warga Tionghoa lainnya pun merasakan kebahagiaan yang sama. Mereka berasal dari berbagai kota di Indonesia. Selain Makassar, para pemukim tersebut berasal dari Parepare, Rappang, Gowa dan Maros. Bahkan ada yang dari Ambon, Sidoarjo, Balikpapan, Pekanbaru dan Buol (Sulawesi Tengah).

“Kita patut berterima kasih terhadap keterbukaan Pemerintah saat ini. Dulu, sebelum Reformasi, kita sangat susah untuk mendapatkan surat keterangan penegasan status WNI. Bahkan, perlu biaya mahal dan waktu yang sangat lama,” ujar Wakil Ketua PSMTI Sulsel, Ruddy Effendy, dalam sambutannya di sela-sela penerimaan SK penegasan status WNI secara gratis kepada 32 warga Tionghoa.

Padahal, kata dia, meski kerap mendapatkan diskriminasi, namun para warga Tionghoa sudah merasa sebagai bagian bangsa Indonesia. “Di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung. Di mana kami mencari hidup, di situlah kami berbakti,” kata Ruddy yang disambut aplaus para undangan.

Pada kesempatan yang sama, Kakanwil Depkumham Sulsel, Drs. Syamsul Bachri, S.H, menyatakan bahwa Pemerintah saat ini memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para pemukim untuk menjadi WNI. “Pemberian status pemukim menjadi WNI merupakan salah satu program 100 hari Kementrian Hukum dan HAM. Bagi yang ingin mendapatkan permohonan status WNI secara gratis, diberi kesempatan mendaftar hingga 28 Januari 2010. Selepas itu, maka akan dibebankan pembayaran,” jelas Syamsul.

Penyerahan SK penegasan status WNI ini juga dihadiri Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Makassar, Kepala Biro Hukum dan HAM Sulsel, pengurus PSMTI Sulsel dan Makassar serta pengurus yayasan-yayasan Tionghoa. “Penyerahan SK WNI ini merupakan hasil kerjasama Depkumham, PSMTI Sulsel dan pengurus yayasan-yayasan Tionghoa. Ini merupakan realisasi tahap kedua setelah pada tahap pertama diberikan kepada 65 orang,” ungkap Saiman Sutanto, Sekretaris PSMTI Sulsel. [Sapriadi Pallawalino]

Di Balik Sukses Bisnis MLM ala CNI

Berlakukan Konsep Satu Harga, Member Tak Dibebankan Target
Dewasa ini, bisnis Multi Level Marketing (MLM) di Indonesia cukup marak. Beberapa perusahaan memilih sistem MLM untuk memasarkan produknya ke konsumen.
----------------- Salah satunya adalah PT. Citra Nusa Insan Cemerlang. Perusahaan yang lebih dikenal dengan nama CNI ini, merupakan salah satu perusahaan MLM di Indonesia yang sukses mengembangkan jaringan usahanya. Selain di tanah air, perusahaan yang berkantor pusat di Jln. Arteri Kedoya, Jakarta tersebut mampu go international dengan membuka korporasi di beberapa negara, seperti Malaysia, Hongkong, Taiwan, Tiongkok, Filipina dan Singapura. “CNI pertama kali berdiri pada 1 Oktober 1986 dan merupakan perusahaan asli putra-putri Indonesia. Saat ini, CNI sudah memiliki 10 cabang dan didukung 150 outlet di seluruh Indonesia, serta mampu go international dengan membuka kantor cabang di beberapa negara,” ungkap Adi Ardiansyah, Head of Branch CNI Cabang Makassar, kepada Pecinan Terkini saat ditemui di kantornya, akhir Oktober lalu. Khusus di Makassar, kata Adi, kantor cabang CNI dibuka sejak tahun 1994, membawahi Kawasan Timur Indonesia (KTI), yang meliputi Sulawesi, Maluku dan Papua. Dua kantor cabang terletak di Makassar dan Manado dengan 10 titik distribution centre (DC) meliputi Parepare, Palu, Kendari, Ternate, Gorontalo, Sorong, Jayapura dan Merauke. Mengenai produk yang ditawarkan, imbuh Adi, terdapat empat kelompok produk utama, yakni makanan kesehatan (health food), kebutuhan sehari-hari (personal care), perlengkapan rumah tangga (home care) dan peralatan rumah (house tool), dengan jumlah lebih 300 item. “Produk unggulan CNI hampir merata. Meski demikian, beberapa produk seperti Ester C, Sun Chlorella dan kopi ginseng CNI cukup kuat di masyarakat. Dan itu terbukti dari sejak 2007, selama 3 kali berturut-turut CNI mendapatkan penghargaan dari IMAC, yakni salah satu lembaga yang melakukan survey terhadap perusahaan-perusahaan yang paling dikenal oleh masyarakat,” ujar pria kelahiran Samarinda, 25 Agustus ini. Meski menerapkan sistem pemasaran dengan cara MLM, namun dalam pengadaan produk dan distribusi tetap menggunakan sistem konvensional. Konsepnya adalah bagaimana menjual produk kepada orang lain setelah si penjual (dalam hal ini member CNI) merasakan manfaatnya. Dengan demikian, maka member bisa sharing dan memberi referensi kepada orang lain, baik itu kerabat, tetangga dan teman-teman kantor untuk mencoba produk CNI. “Member tidak dibebankan target penjualan. Bisa saja mereka membeli produk CNI untuk konsumsi pribadi. Namun dengan adanya sharing dan referensi terhadap orang lain, mereka akan mendapatkan keuntungan berupa komisi,” ujar Adi. Di samping itu, jelas alumni Ekonomi Manajemen di salah perguruan tinggi di Malang tersebut, CNI juga memberlakukan konsep satu harga bagi konsumen, sementara member akan mendapatkan diskon dari satu harga tersebut. Member terbagi atas dua kelompok, yakni member eksekutif dan member platinum dengan berbagai fasilitas dan keuntungan yang ditawarkan. “Mengenai prospek, kami optimis dengan peluang ke depan. Hampir 80 persen produk CNI diproduksi di dalam negeri dengan pabrik yang terdapat di daerah Jakarta Barat seluas 40 hektar. Dari produk-produk yang ditawarkan, 30 – 40 persen produk CNI juga dikonsumsi warga Tionghoa.,” tutup Adi. [Sapriadi Pallawalino]

Fish Spa, Sensasi Terapi dengan “Gigitan” Ikan Garra Rufa

Selama ini, masyarakat mengenal ikan sebatas untuk lauk pauk dan hiasan di akuarium. Ternyata, hewan air itu pun bisa dijadikan sebagai sarana terapi, khususnya kesehatan kulit.
Sekilas, tempat fish spa itu tak ubahnya sebuah kolam ikan hias. Terdapat tiga kolam yang dihuni ribuan ikan species garra rufa, dengan desain interior yang terkesan natural. Untuk terapi, pengunjung cukup duduk di sisi kolam sembari menjuntaikan kedua kaki ke dalam kolam. Alhasil, serombongan ikan mungil itu pun akan mengerubuti kaki yang menghasilkan sensasi tersendiri. “Saya ini baru mencoba dan rasanya geli. Tetapi, lama kelamaan kaki rasanya lebih enak dan pegal-pegal pun menjadi hilang,” ujar Aminah (45 tahun), warga BTN Minasa Upa saat mencoba terapi dengan ikan garra rufa di Fresh Fish Spa di lantai dasar Mal Panakukkang, beberapa waktu lalu. Karena penasaran, penulis pun mencoba terapi dengan ikan garra rufa yang dikenal juga dengan nama Dr. Fish. Saat kedua kaki menyentuh air di kolam, sontak ikan-ikan itu pun langsung mengerubuti kaki. Ya, ada sensasi rasa geli seperti sengatan listrik dalam skala kecil. Sekira lima menit kemudian, “gigitan-gigitan” ikan garra rufa itu pun terasa seperti pijatan kecil. Usai terapi sekira 15 menit, kaki pun terasa lebih ringan dan segar. “Terapi dengan ikan garra rufa ini merupakan yang pertama di Makassar. Meski baru dibuka beberapa pekan lalu, saya melihat respon masyarakat cukup bagus. Berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa penasaran untuk mencoba terapi ini. Bahkan, ada yang ketagihan untuk mencoba lagi” ungkap David, pengelola Fresh Fish Spa. Untuk menikmati sensasi terapi ikan garra rufa, pengunjung cukup merogoh kocek senilai Rp. 75.000 dengan durasi waktu 30 menit sekaligus mendapatkan voucher senilai Rp. 25.000 untuk kunjungan berikutnya. Di samping itu, selama masa promosi, pengunjung akan mendapatkan diskon senilai Rp. 15.000. David mengaku, ketertarikannya merintis usaha terapi dengan ikan garra rufa berawal dari informasi yang didapatkan di berbagai media, baik media cetak maupun browsing di internet. Setelah melakukan observasi di beberapa tempat fish spa serupa di Jakarta dan Bandung, pria kelahiran Makassar 17 September 1970 ini pun mantap membuka usaha fish spa di Makassar. “Saya sempat belajar 2 hari di salah satu fish spa di Jakarta. Karena pengalaman saya sebelumnya memang di bidang bisnis ikan hias seperti koi yang saat ini masih berjalan, maka saya merasa tidak terlalu sulit mengelolanya. Perawatannya pun tidak jauh beda,” tutur David yang saat ini mempekerjakan 4 karyawan untuk mengelola usaha fish spa-nya tersebut. Menurutnya, terapi dengan ikan garra rufa memiliki beberapa khasiat. Antara lain meningkatkan sirkulasi darah, pengelupasan kulit mati secara alami sehingga membuat kulit lebih halus dan sehat serta diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit kulit ringan. “Ikan garra rufa ini mampu membersihkan kulit kaki karena mengisap sel-sel kulit yang telah mati. Di samping itu, gigitannya menghadirkan sensansi tersendiri yang mampu menghilangkan stress setelah seharian beraktivitas,” ujar David. Meski kesannya menggigit, namun ikan mungil yang berukuran maksimal 14 cm itu tidak mempunyai gigi sehingga tidak menimbulkan luka di kulit. Selain itu, ikan asal Turki tersebut memiliki enzim unik bernama dithranol (anthralin) yang dapat menghambat pertumbuhan sel kulit yang terlalu cepat. Oleh karena itu, gigitan ikan itu juga dipercaya dapat membantu para penderita penyakit kulit seperti psoriasis. “Untuk saat ini, terapi dengan ikan garra rufa baru sebatas kulit kaki. Namun ke depan, saya berencana mengembangkan untuk terapi kesehatan kulit tubuh dan membuka beberapa cabang, seperti di mal GTC dan MTC,” tandas David. Berasal dari Turki Ikan garra rufa, berasal dari Turki dan telah dikenal ratusan tahun oleh masyarakat setempat sebagai ikan yang dapat mengobati penyakit kulit yang hidup di sumber air hangat daerah Kangal. Sumber air hangat Kangal tersebut pertama kali diketahui pada tahun 1800, saat seorang pengembala yang terluka kakinya sering berendam di kolam air hangat itu dan ternyata lukanya berangsur sembuh. Sejak saat itu, kesembuhannya mendapat perhatian masyarakat dan pada tahun 1950, Pemerintah Administrasi Sivas di Turki membangun beberapa kolam dan fasilitas pendukung lainnya di daerah tersebut. Selanjutnya, beberapa negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia hingga Indonesia kemudian mengembangkan sebagai bisnis dengan nama fish spa. [Sapriadi Pallawalino]

Mengembalikan Kejayaan Kopi Kalosi Enrekang

Enrekang, merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Terletak di jantung jazirah Sulawesi Selatan dengan kondisi alam berupa daerah pegunungan, membuat daerah yang memiliki luas sekira 1.786,01 km persegi ini kaya akan hasil alam sehingga potensial untuk pengembangan agrobisnis.

BAGI Anda penikmat kopi, mungkin sudah tidak asing lagi dengan kopi Kalosi? Kopi yang konon mempunyai aroma dan cita rasa khas serta diyakini sebagai salah satu kopi terbaik di dunia, merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Enrekang. Kopi jenis Arabica typica yang hanya bisa dibudidayakan pada daerah ketinggian 1.500 di atas permukaan laut itu bahkan menjadi kopi langka dan tertua di dunia. Di Indonesia, jenis kopi ini hanya bisa tumbuh di Kabupaten Enrekang.

“Sejak beberapa tahun silam, kopi Kalosi sudah terkenal bahkan diekspor hingga ke luar negeri dengan harga tinggi, seperti ke Jerman, Jepang dan Amerika. Kopi ini disukai di luar negeri karena rasa dan aromanya yang khas,” ungkap Bupati Enrekang, H. La Tinro La Tunrung didampingi Wakil Bupati Nurhasan, Sekda M. Amiruddin dan para kepala SKPD saat menerima para wartawan yang tergabung dalam rombongan PWI Cabang Sulawesi Selatan, di pendopo rumah jabatan, beberapa waktu lalu.

Pengembangan kopi Arabica typica di Enrekang dilakukan sejak masa penjajahan Belanda. Pada masa itu, di antara tahun 1725 sampai 1780, Pemerintah Belanda melalui VOC memonopoli perdagangan kopi dunia. Mereka melakukan penanaman kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Selanjutnya, mereka melebarkan sayap dengan menanam kopi di luar Pulau Jawa, seperti di Sulawesi, Sumatera dan Bali. Di Sulawesi, tepatnya di wilayah Kabupaten Enrekang saat ini, penanaman kopi Arabica typica mulai ditanam tahun 1750. Dengan menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel), VOC menangguk keuntungan besar dari perdagangan kopi tersebut.

Sayangnya, perkebunan kopi Arabica typica tersebut sebagian besar hancur saat penyakit daun kopi menyerang Indonesia. Sehingga, kopi jenis ini sempat hilang di pasaran dan dianggap punah.

“Tetapi, dua tahun lalu, di beberapa wilayah di Kabupaten Enrekang masih ditemukan beberapa pohon kopi Arabica typica. Saat ini, tercatat hanya ada sekira 13.200 pohon kopi Arabica typica yang tersebar di 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Bungin, Buntubatu, Masalle, Baraka dan Baroko, sehingga pengembangannya dilakukan secara terbatas,” imbuh Kadis Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Enrekang, H. Rusdianto didampingi Kabid Perkebunan, Umar Sappe, kepada rombongan wartawan saat melakukan observasi di beberapa daerah perkebunan kopi di Bumi Massenrempulu tersebut.

Komoditi kopi Kabupaten Enrekang lainnya adalah jenis kopi Arabica lineage. Kopi jenis ini bisa tumbuh pada ketinggian 700 – 1.000 m di atas permukaan laut. Berbeda dengan jenis kopi Arabica typica, jenis kopi yang lebih dikenal sebagai kopi Arabica biasa ini, dikembangkan masyarakat secara luas dan diperdagangkan secara umum.

Pusat perdagangan kopi jenis ini dapat dijumpai di Pasar Sudu, Kelurahan Kambiolangi, Kecamatan Alla.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Enrekang tahun 2008, luas areal produksi kopi Arabica seluas 11.515,50 Ha yang diusahakan oleh 16.657 KK atau sekira 81.680 jiwa (45 persen penduduk Kabupaten Enrekang) dengan jumlah produksi mencapai 5.122,3 ton.

Perkebunan kopi yang dikembangkan oleh rakyat ini tersebar di beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Bungin, Baraka, Alla, Buntu Batu, Curio, Masalle, Baroko dan sebagian kecil di wilayah Kecamatan Enrekang, Malua dan Anggeraja.

Pengembangan Specialty Coffee Kalosi

Dalam rangka menyelamatkan dan mengembalikan kejayaan kopi Kalosi, Pemkab Enrekang tidak tinggal diam dan gencar melakukan berbagai cara. Sejak 2007 lalu, Pemkab bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar melakukan kegiatan pembibitan sambung pucuk pohon kopi Arabica typica dan pembangunan kebun induk benih seluas 30 ha di Desa Sawitto, Kecamatan Bungin yang juga dipersiapkan sebagai sentra pengembangan specialty coffee Kalosi.

Langkah tersebut dilakukan untuk menyediakan benih tanaman kopi bermutu dan menjaga keaslian kopi Kalosi. Sebab, disinyalir selama ini ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab mencampur kopi Kalosi dengan jenis kopi lain sehingga menghilangkan kepercayaan pasar.

Upaya lainnya adalah intensifikasi dan perluasan tanaman kopi, pembinaan petani dan penguatan kelompok tani melalui petugas pendamping, pengadaan sarana dan prasarana serta paket teknologi yang bebas dari bahan kimia.

Diakui Umar, salah satu permasalahan dalam pengembangan kopi Kalosi adalah pembudidayaan yang masih dilakukan secara tradisional oleh masyarakat setempat dan belum sepenuhnya menerapkan teknologi budidaya tanaman kopi.

“Akibat penanganan on farm dan off farm yang belum memadai, produk yang dihasilkan didominasi biji asalan sehingga berpengaruh terhadap rendahnya mutu kopi. Di samping itu, diversifikasi produk kopi olahan belum berkembang, sehingga dengan keberadaan petugas pendamping, para petani tergerak untuk menerapkan teknologi budidaya tanaman kopi secara modern,” tambah Umar Sappe.

Upaya lain yang ditempuh Pemkab Enrekang adalah menjalin kerjasama dengan pihak swasta melalui ujicoba rasa menjadi kopi bubuk dan sari kopi.

“Oleh karena itu, saat ini kami sementara mengurus hak paten kopi Kalosi. Dengan adanya hak paten tersebut, kami bisa memasarkan kopi dengan brand specialty coffee Kalosi DP sebagai ikon kopi dan brand mark Kabupaten Enrekang sehingga mampu membangun kembali citra kopi Kalosi yang terkenal di luar negeri. Kami juga tengah memikirkan pembangunan agrowisata kopi,” imbuh Umar.

Sejenak, saya membayangkan, jika kelak para wisatawan yang mengunjungi Enrekang, bisa menikmati sajian kopi Kalosi sambil menikmati keindahan panorama Gunung Nona. Sungguh, sebuah sensasi tersendiri. [Sapriadi Pallawalino]